SORONG – Di tengah semangat menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sejumlah tokoh lintas agama, adat, dan organisasi masyarakat berkumpul dalam Forum Masyarakat Peduli Kamtibmas Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Direktur Intelkam Polda Papua Barat Daya, Kombes Pol Angling Guntoro, S.I.K, didampingi Kasat Intelkam Polres Sorong, AKP Victorinus Aryo SIK
Pertemuan yang berlangsung hangat di ruang rapat Aimas Hotel menjadi ruang bertukar pandangan tentang pentingnya menjaga harmoni sosial di Tanah Moi wilayah yang dikenal dengan keberagaman suku, budaya, dan keyakinan.
“Kamtibmas di Papua ini unik,” ujar Kornelius Ulimpa dalam forum itu. “Orang Moi memiliki jiwa sosial dan sikap rendah hati yang tinggi. Itulah kekuatan yang harus terus kita jaga.” pungkasnya.

Nada serupa disampaikan Sutikno, Ketua Ikasawara, serta Petrus Maitren, mantan anggota KPU Kabupaten Sorong. Maitren menekankan, kehadiran Polda Papua Barat Daya di daerah ini membawa harapan besar bagi masyarakat. “Kami berharap rasa aman dan nyaman dapat terus terjaga dengan kehadiran Polda,” katanya.
Bagi Ramli Tahir, Kepala Suku KISS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) , rasa aman di Sorong bukan sekadar retorika. “Selama tinggal di Kabupaten Sorong, saya selalu merasa tenang dibandingkan daerah lain. Keramaian di sini tetap terjamin keamanannya,” ujarnya.
Dari kalangan gereja, Nimbrod Sesa, Sekretaris Sinode Wilayah VII, menyebut ada sembilan klasis dengan total 129 jemaat di wilayahnya. Ia berharap keterlibatan masyarakat asli Papua (OAP) dapat diperluas dalam berbagai aspek, termasuk dalam rekrutmen kepolisian. “Soal keamanan dan kenyamanan, itu juga tanggung jawab bersama,” katanya.
Nada tanggung jawab yang sama disuarakan Pendeta Monica Blees, Ketua PGPI Kabupaten Sorong. Ia menyebut, ada 98 pendeta dan gereja di bawah naungannya yang berkomitmen menjaga stabilitas daerah. “Kami para pendeta bertanggung jawab atas keamanan jemaat, tapi kami juga tetap waspada. Kamtibmas adalah kerja bersama,” tuturnya.

Dari unsur adat, Moses Adadikam, Kepala Suku Biak sekaligus hakim adat, memberi apresiasi atas forum ini. Ia menegaskan pentingnya ketegasan aparat terhadap pelanggaran sosial. “Kalau ada saudara-saudara kita yang mabuk dan bikin rusuh, tindak saja dengan tegas,” katanya lugas.
Sementara dari unsur keagamaan Islam, Imam Sururi dari PHBI Kabupaten Sorong menyoroti sinergi yang sudah terjalin baik antara masyarakat dan kepolisian. “Polres Sorong banyak membantu kegiatan keagamaan. Saya salut dengan kondisi kamtibmas di sini, semoga tak ada kesenjangan sosial,” ujarnya.
Senada, Ahad, Ketua MUI Kabupaten Sorong sekaligus anggota FKUB dan Majelis Papua, menyebut Sorong sebagai miniatur Indonesia. “Kabupaten Sorong adalah contoh proyek Indonesia mini beragam suku, agama, tapi toleransinya tinggi. Kita tak boleh memberi ruang bagi intoleransi untuk tumbuh di sini,” tegasnya.
Menutup pertemuan, Kombes Pol Angling Guntoro menekankan bahwa menjaga kamtibmas tidak bisa hanya diserahkan pada aparat keamanan. “Kamtibmas dimulai dari lingkungan terdekat, dari keluarga kita sendiri. Pencegahan itu jauh lebih efektif daripada penindakan,” ujarnya.
Ia berharap forum serupa bisa rutin dilakukan sebagai wadah komunikasi antara masyarakat dan aparat keamanan. “Dengan pertemuan yang lebih intensif dan berkesinambungan, kita bisa menekan potensi kejahatan di tengah pesatnya perkembangan kota,” ucapnya.
Penulis : Andre R


