SORONG – Pulau Doom, Papua Barat Daya merupakan wilayah bersejarah dengan karakteristik sosial budaya pesisir dan kepulauan yang khas. Sabtu, 13 Desember 2025, pukul 08.00 WIT, Anggota DPD RI/MPR RI dapil Papua Barat Daya, Paul Finsen Mayor, melaksanakan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di sana. Bertempat di Lapangan Serbaguna Kompleks Gereja GKI Bethel, Pulau Doom, Distrik Sorong Kepulauan, Kota Sorong.
Selain masyarakat nelayan dan pedagang kecil, masyarakat lainnya juga hadir di wilayah kepulauan yang selama ini kerap merasa berada di pinggiran arus pembangunan.
Paul Finsen Mayor yang juga Ketua Dewan Adat Papua Wilayah III Doberay menegaskan bahwa nilai-nilai Empat Pilar MPR RI, khususnya pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), harus dirasakan manfaatnya hingga ke pulau-pulau kecil, bukan hanya terpusat di wilayah daratan besar. Ia menekankan bahwa menjaga kedaulatan wilayah pesisir merupakan bagian dari pengamalan nilai patriotisme dan cinta tanah air.
“NKRI tidak boleh berhenti di daratan. Negara harus hadir sampai ke pulau-pulau kecil. Menjaga wilayah pesisir adalah bagian dari menjaga kedaulatan bangsa,” tegas Paul Finsen Mayor.
Sosialisasi ini berfokus pada penguatan ekonomi kerakyatan berbasis kelautan yang dipadukan dengan nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kehadiran Senator Paul Finsen Mayor di Pulau Doom disambut hangat oleh masyarakat sebagai bentuk nyata perhatian wakil rakyat pusat terhadap warga kepulauan yang sering kali menghadapi keterbatasan akses pembangunan.
Dialog berlangsung dinamis dengan mengaitkan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI pada tantangan hidup sehari-hari masyarakat pesisir. Salah satu warga menyampaikan kegelisahan terkait ketimpangan pembangunan infrastruktur dasar.
“Bapak Senator, Pulau Doom ini wilayah bersejarah, tetapi kami sering merasa dianaktirikan dalam pembangunan infrastruktur seperti air bersih dan listrik dibandingkan daratan Sorong. Di mana letak keadilan sosial bagi kami warga pulau kecil?”
Menanggapi hal tersebut, Paul Finsen Mayor menegaskan bahwa Sila Kelima Pancasila tidak mengenal batas geografis. Setiap warga negara, termasuk di pulau terkecil, berhak menikmati standar hidup yang sama.
Ia menambahkan bahwa paradigma pembangunan nasional harus berpihak pada wilayah kepulauan.
“Saya akan mendesak kementerian terkait di Jakarta agar pembangunan kita berpola archipelagic atau kepulauan, sehingga warga Doom tidak hanya menjadi penonton kemajuan di daratan, tetapi menjadi bagian dari kemajuan itu sendiri,” lanjutnya.
Pertanyaan lain mengemuka terkait kemajemukan sosial di Pulau Doom yang berpotensi menimbulkan gesekan ekonomi dan sosial. Karena di Pulau Doom ada suku asli, Bugis, Buton, dan lainnya yang sudah turun-temurun hidup di sini.
Paul Finsen Mayor menekankan makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai kekuatan sosial. Bhinneka Tunggal Ika di Pulau Doom sudah teruji oleh sejarah. Perbedaan adalah modal sosial, bukan beban. Jika ada persoalan, kedepankan dialog.
“Jangan biarkan isu dari luar memecah persaudaraan kita. Kita semua satu keluarga dalam bingkai Papua Barat Daya dan Indonesia,” tegasnya.
Penulis : Andre R


